Cerita Bersambung - Apakah Memang Dia?

APAKAH MEMANG DIA?
Cerita Bersambung



cerita bersambung apakah memang dia?

Ketika sedang mengerjakan pekerjaan yang lumayan menumpuk tiba-tiba Hermansyah dikejutkan oleh suara notifikasi pesan WhatsApp dengan nada khusus, nada khusus yang sudah lama tak didengar. "Tumben dia mengirim pesan lagi." Hermansyah berkata dalam hati.

Lantas Hermansyah menyambar HP-nya yang tergeletak di atas meja dan langsung membuka pesan whatsApp yang baru saja diterimanya.

"Bang, boleh kah aku bertanya sesuatu?" Tulisnya singkat di kolom pesan WhatsApp yang masih kosong sejak ia menghapus semua percakapan dengannya waktu itu.

"Boleh, mau bertanya apa?" Hermansyah langsung menjawab pesan Whatsapp-nya.

Kembali terdengar notifikasi dengan nada khusus dari HP yang masih digengamnya bertanda dia langsung membalasnya. "Tapi abang harus menjawab dengan jujur, mau kan?" Isi pesan balasan darinya.

Sesaat Hermansyah terdiam dan berpikir ada apa sebenarnya di balik pesan dan pertanyaannya itu. Lantas ia pun membalasnya, "Iya abang akan menjawabnya dengan jujur."

Tak lama kemudian datang kembali pesan balasan darinya, isinya singkat memintanya agar ia berjanji untuk menepati perkataannya sebelumnya.

"Janji ya, bang!"

"Iya, abang janji abang akan menjawabnya dengan jujur." langsung Hermansyah membalas pesannya.

Berapa detik kemudian terdengar nada dering telpon dengan nada khusus, dia tidak membalas lewat pesan WhatsApp tapi langsung menelpon. Sedikit ragu Hermansyah untuk mengangkatnya tapi akhirnya ia mengangkat juga telpon darinya.

"assalamualaikum." Terdengar ucapan salam darinya

"Wa'alaikumsalam." "Ada apa, Sih?"

"Bang, Ningsih ingin bertanya apa abang masih sayang dan tidak membenci Ningsih?"

"Iya. Memang kenapa, Sih?"

"Reza, dia... Dia...." terdengar suara tangisnya.

"Kenapa dengan Reza?" "Apa yang telah terjadi dengan Reza, Sih?"

Di seberang sana hanya terdengar suara tangisan.

"Ada apa, tolong dijawab jangan menangis seperti itu. Jawablah ada apa sebenarnya?" tanya Hermansyah dengan nada cemas.

"Mungkin ini balasan atas perbuatanku, aku yang telah menyia-nyiakan cinta yang tulus seseorang dan akhirnya semua jadi seperti ini, bang." jawabnya sambil menangis.

"Maksudnya apa, abang tidak mengerti coba dijelaskan, Sih?"

"Aku telah mendapatkan balasannya karena ulahku sendiri, aku telah mengkhianatinya dan inilah balasan yang harus aku terima."

"Jadi Ningsih telah mengkhianati Reza?" Tanya Hermansyah menegaskan.

"Jangan sebut nama lelaki sialan itu lagi aku Tidak sudi mendengarnya lagi."

Hermansyah tersentak mendengar jawaban dari Ningsih. Ada apa ini kenapa dia begitu marah pikirnya. Sepertinya ada yang tidak beres di antara mereka berdua? Lalu Hermansyah kembali bertanya, "kok Ningsih berkata seperti itu ada apa sebenarnya ini tolong jelaskan jangan buat abang bingung. Kalau bukan Ningsih yang mengkhianati Reza apa Reza yang mengkhianati Ningsih?"

"Lelaki sialan itu telah menduakanku dan mungkin ini balasan yang aku harus terima karena aku juga telah menduakan cintanya." Jawabnya dengan nada tinggi.

"Sebentar, berarti Ningsih yang terlebih dahulu mengkhianati Reza terus Reza membalas mengkhianati Ningsih begitu kah? Tanya Hermansyah lagi.

"Bukan, bukan begitu bang. Aku tidak mengkhianati lelaki sialan itu tapi lelaki sialan itu yang mengkhianatiku."

"Sabar.. Sih... sabar dan tahan emosi jelaskan pelan pelan biar abang mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kalau Ningsih menjelaskan dengan marah-marah seperti itu abang malah bingung menanggapinya."

"Maafkan aku, bang...maafkan aku."

"Iya abang maafkan dan tolong jelaskan pelan-pelan agar abang mengerti duduk masalahnya atau begini saja kita ketemuan saja agar bisa bicara secara langsung dan Ningsih bisa menceritakan semuanya dengan jelas."

Akhirnya Ningsih pun setuju untuk bertemu, dia sepakat untuk bertemu sehabis Maghrib di tempat yang biasa kami pakai untuk bertemu.

Hari itu Hermansyah berkerja tidak begitu semangat, ia masih kepikiran dengan masalah Ningsih tadi dan menduga-duga apa yang sebenarnya yang telah terjadi dengannya.

------------------------------------------------------

Waktu seakan berhenti berputar menunggu Maghrib saja terasa begitu lama. Sebentar-bentar Hermansyah melihat jam. "Sial masih satu setengah jam lagi." Gerutunya.

Untuk membunuh waktu yang seakan berhenti berputar Hermansyah menghidupkan kembali komputer yang telah dimatikan dan mulailah ia browsing ke sana ke mari sampai akhirnya terdengar suara azan Maghrib di kejauhan. "Akhirnya Maghrib datang juga." ucap Hermansyah dalam hati. Lalu ia mematikan komputernya dan bergegas mengambil air wudhu untuk mengerjakan shalat Maghrib. Selesai shalat Hermansyah beranjak ke parkiran, menghidupkan motornya dan langsung pergi menuju tempat yang telah ia dan Ningsih sepakati untuk bertemu.

Tak lama sampailah Hermansyah di sebuah taman kecil tempat yang telah disepakati untuk bertemu. Tempat itu memang tak begitu jauh hanya beberapa menit dari tempatnya bekerja. Hermansyah menstandarkan motornya dan memandangan ke sekeliling taman belum terlihat tanda-tandanya kalau Ningsih sudah datang lebih dulu. Lalu ia berjalan ke sebuah bangku yang ada di dalam taman. Bangku kayu panjang dengan senderan tempat biasa ia dan Ningsih duduk menikmati keindahan taman. Ditatapnya bangku itu, bangku kayu panjang dengan senderan itu masih seperti beberapa waktu yang lalu saat terakhir kali ia dan Ningsih duduk di situ. Lalu Hermansyah pun duduk di bangku itu. Ketika duduk ingatannnya pun melayang ke saat terakhir ia dan Ningsih duduk di bangku itu. Saat di mana ia dan Ningsih memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah cukup lama dijalani.

"Bang Herman." Teguran itu membuyarkan lamunan Hermansyah

"Ningsih"

"Sudah lama nunggunya bang?"

"Belum, abang juga baru sampai." Jawab Hermansyah sambil tersenyum dan menatap wajah Ningsih.

"Sudah beberapa lama tak pernah bertemu dan melihatnya semakin cantik saja dia."ucap Hermansyah dalam hati. Rasa yang pernah ada dan memang belum hilang benar kembali  muncul dan meronta-ronta memaksa untuk keluar.  Rasanya ingin sekali ia memeluknya seperti dulu tapi itu tak mungkin dilakukan dan sebisa mungkin ia menahan rasa itu.

"Boleh aku duduk bang?"

"Boleh, silakan duduk, Sih."

Ningsih pun duduk di sampingnya dan kembali ingatan itu muncul lagi ingatan di mana ia dan Ningsih masih berstatus sepasang kekasih. Rasa yang pernah ada itu kembali meronta-ronta ingin keluar dan untuk menenangkan diri Hermansyah mengeluarkan rokok dan berkata, "Boleh abang merokok, Sih?"

"Silakan bang." Jawab Ningsih sambil menatap tajam. Hermansyah tahu arti tatapan itu. "Kamu masih tetap seperti yang dulu yang tak suka dengan perokok" ucap Hermansyah dalam hati.

Hermansyah menghisap dalam-dalam rokoknya dan menghembuskan asapnya pelan-pelan untuk menenangkan perasaan yang meronta-ronta ingin keluar. Setelah merasa agak tenang dan berhasil menekan rasa itu ia pun bertanya "Sudah lama tidak bertemu bagaimana kabarnya Sih?"

"Alhamdulillah baik bang. Kabar abang sendiri gimana?"

"Seperti yang Ningsih lihat seperti inilah keadaan abang tak berubah masih seperti dulu." Jawab Hermansyah sambil tersenyum.

Ningsih menatap mata Hermansyah lekat-lekat, seolah ia menemukan sebuah kehangatan dan kenyamanan di matanya dan hatinya pun bergemuruh.

"Oh iya kalau abang boleh bertanya ada masalah apa antara Ningsih sama Reza sepertinya ada masalah serius."

Ningsih tidak langsung menjawab, matanya berkaca-kaca dan wajahnya mulai memerah seperti sedang menahan amarah yang begitu hebat.

"Aku ingin bercerita banyak tapi aku malu bang. Kenapa ini terjadi pada diriku, aku.. aku....." Ningsih tak bisa lagi menahan gejolak di hatinya ia pun tertunduk dan menangis.

Hermansyah merangkul bahu Ningsih sambil berkata, "kalau memang Ningsih tak bisa menceritakannya tak usah diceritakan abang pun takkan memaksa Ningsih untuk menceritakannya."

Ningsih menyandarkan kepalanya di bahu kiri Hermansyah dan terus menangis. Hermansyah merangkulnya dan mengusap bahunya dengan lembut untuk menenangkannya. "Menangislah bila itu bisa membuatmu tenang, jangan pedulikan yang lain sampai hatimu benar benar merasa tenang."

Cukup lama juga Ningsih menangis, perlahan-lahan tangisannya pun mereda dan dia mulai menceritakan masalahnya. Hermansyah hanya terdiam mendengarkan ceritanya. Ningsih menceritakan semuanya tentang masalah dia dengan Reza. Setelah mendengar semua cerita Ningsih dan tahu duduk permasalahannya ia merasa kasihan kepada Ningsih dan juga geram kepada Reza dan seandainya Reza saat itu ada di hadapannya mungkin sudah dicaci-makinya habis-habisan.

Tak terasa cukup lama mereka berbicara dan haripun semakin malam, embusan angin pun sudah terasa dingin tak lagi bersahabat. Hermansyah dan Ningsih menghentikan pembicaranya dan memutuskan untuk pulang. Yang masih diingat Hermansyah adalah guratan tipis di bibir Ningsih, dia tersenyum padanya sembari memberikan sebuah ucapan selamat malam dan mengakhiri kalimatnya dengan ucapan terima kasih.

Hati Hermansyah berdebar, ingatannya mulai menyeruak keluar, kenangan-kenangan masa lalu bersama Ningsih tidak bisa lagi berdiam di dalam ingatannya. Dan dia berharap pertemuannya dengan Ningsih di malam itu menjadi awal kembalinya kisah manisnya bersama Ningsih.

"Semoga kembali akan kudengar notifikasi pesan dengan nada khusus seperti beberapa waktu yang lalu seperti kali ini notifikasi itu kembali berbunyi dan dapat kupastikan, pesan itu dikirim oleh Ningsih." Kata Hermansyah dan hati.




Bersambung...


Baca juga cerita lainnya :
Adakah Pertemuan Di Cerita kita (Masih Ada Sedikit Harapan)
Misteri Di Balik Kata Hmmm



Cerita Bersambung - Apakah Memang Dia?

Postingan populer dari blog ini

Nike Ardilla Kuterima Cintamu MP3 Dan Lirik

MP3 Iwan Fals Mata Dewa Full Album

MP3 Iwan Fals Kantata Takwa Full Album

MP3 Cokelat Rasa Baru Full Album

Cerpen Misteri Di Balik kata Hmmm

MP3 Iwan Fals Kantata samsara Full Album

MP3 Iwan Fals Swami II Full Album