Cerpen Misteri Di Balik kata Hmmm

MISTERI DI BALIK KATA HMMM
Cerpen



cerpen misteri di balik kata hmmm


Hampir tengah malam terdengar suara notifikasi WA dengan nada khusus, nada khusus yang selama ini selalu terdengar setiap hari. Kuambil HP-ku yang tergeletak di lantai, kusapukan jariku untuk melihat isi pesannya. "Hmmm", hanya kata itu yang tertulis di pesan chatnya. Perasaanku mulai terasa tak enak, tak lama kemudian pesan itu dihapusnya mungkin dia mengira pesannya belum dibaca. Perasaan yang tadinya sudah terasa tak enak menjadi semakin terasa tak enak.

Pikiranku mulai berkecamuk menghubung-hubungkan dengan pesan-pesan chat sebelumnya sampai akhirnya ku mendapatkan satu pesan chat yang ku pastikan menjadi satu alasan kenapa dia mengirim pesan chat hanya kata "Hmmm" yang tak lama kemudian dihapusnya, chat itu pun berhubungan dengan status FB terbarunya yang diposting setelah azan Maghrib. Aku tahu dia ingin mengatakan sesuatu tapi karena hampir tengah malam dan matapun sudah lelah chat darinya tak kubalas.

Esok paginya kukirim pesan chat yang berupa pertanyaan "Kenapa dihapus? Terbangun tengah malam ya?"

Seperti biasa untuk menutupinya dia menjawab "gak apa apa" dan "dia bilang semalam tidak bisa tidur."

Sebenarnya aku ingin menanyakannya lebih lanjut karena perasaanku sudah tak enak dari semalam namun akhirnya aku biarkan saja karena hari masih pagi dan sambil kucoba untuk menenangkan perasaanku.

Hari-hari berjalan seperti biasa dan aku pun sudah melupakan pesan chat-nya yang hanya satu kata "Hmmm" yang membuat perasaan di hati ini tak tenang sampai pada beberapa hari kemudian pada suatu siang di hari Minggu dia mengirim pesan chat yang membuat perasaan di hati ini kembali berkecamuk tak menentu. Ia mengirimkan pesan chat, "Mas... Ada sesuatu yang mau ditanyakan ke aku apa gak?"

Selama aku mengenal dan akrab dengannya kata-kata seperti itu belum pernah dikatakan di dalam chatnya.

Akupun menjawab "Gak ada, gak ada yang ingin aku tanyakan kalaupun itu ada pasti akan aku tanyakan dan biasanya juga pertanyaan-pertanyaan akan mengalir begitu saja dalam obrolan."

Dia mendesak dan memaksaku untuk menanyakan sesuatu kepada dirinya. Perasaan tidak enak yang berkecamuk sedari tadi semakin hebat aku rasakan. Akhirnya akupun menanyakan sebuah pertanyaan kepadanya sekedar untuk memancingnya agar dia menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya.

Pertanyaannya pancinganku berhasil, dia menjawab pertanyaanku itu dan sekaligus memberitahukan apa yang sebenarnya yang ingin ia katakan. Dia mengatakan sesuatu yang membuat diri ini seperti terhempas ke jurang yang begitu dalam dan gelap. Air mata tanpa sadar menetes, perasaan terasa tak menentu, marah, kesal, sedih dan segala rasa campur aduk jadi satu. Aku terduduk lemas, pikiran dan ingatanku melayang jauh ke saat saat pertama aku mengenalnya.

Baca juga : Adakah Pertemuan Di Cerita Kita (Masih Ada Sedikit Harapan)

----- **** -----

"Siapa dia? Sepertinya asik juga buat diajak bercanda." ucapku dalam hati sambil tak lepas-lepas mataku menatap nama seorang yang berkomentar di akun Facebook seorang teman. Sudah beberapa hari ini aku memperhatikannya. Ada keinginan untuk mengirimkan permintaan pertemanan tapi hati ini masih meragu dan takut permintaan pertemanan ku tidak dikonfirmasinya. Kutengok profilnya, di bawah foto profil tertulis bio singkat tentang dirinya. Setelah membaca bio singkat dirinya itu akhirnya ada keberanian mengirimkan permintaan pertemanan.

Tanggal 11 bulan Juni 2017 pukul 21:53 permintaan pertemanan diterima dan jalinan pertemanan pun dimulai. Saling berbalas komentar dan bercanda melalui komentar hampir dilakukan setiap hari dan akhirnya timbul keinginanku untuk mengenal dirinya lebih jauh.

Ingin rasanya mengirimkan dia pesan tapi tak tahu isi pesannya seperti apa dan masih ada keraguan takut pesannya tak terbalas walau aku dan dia akrab di komentar belum tentu di inbox sama sebab inbox sudah bersifat pribadi.

Hampir sebulan saling berbalas komentar dan ada satu kejadian yang menimpa akun Facebook seorang teman yang akhirnya membuatku ada alasan mengirimkan dia sebuah pesan.

"Mbak, aku curiga sama akun DATA, sepertinya akun DATA itu dipakai oleh dua orang?" bunyi pesan pertamaku

Dia pun membalas "Lah... Memang suka begitu... Kadang istrinya ikut nibrung juga... Ah... Aku sudah tahu... Hehehe."

Inbox di hari pertama masih terasa kaku dan hanya berlangsung singkat tapi dari inbox-an yang berlangsung singkat itu aku sedikit tahu karakter dirinya.

Beberapa hari kemudian hampir tengah malam dia mengirim pesan dan kembali terjadi obrolan singkat di inbox karena memang hari sudah lewat tengah malam dan sudah waktunya untuk beristirahat.

Setelah beberapa kali saling mengirim pesan suasana pun mulai cair dan bisa saling mengirim pesan tanpa beban. Bercanda yang biasa dilakukan di komentar jadi pindah ke inbox. Saling tegur saling sapa, tertawa, bercanda atau pun serius.

"Pasti mas lagi ngopi!!"

"Salah..hehehe."

"Terus yang benar lagi apa?"

"Lagi nge-game sambil nunggu notif."

"Tumben... Notif apa tuh yang ditunggu?"

"Apanya yang tumben? Notif apa aja yang masuk duluan."

"Itu nge-game.. Owh... Yang duluan masuk itu yang duluan dibuka gitu ya?"

"Nggak tumben kok, sering nge-game kalau lagi malas keluyuran... Iya... Yang duluan masuk yang dibuka."

"Owh.... Jadi siapa nih yang notifnya dibuka duluan?"

" Ya tergantung yang datang duluan aja."

"Hahaha... Kirain tergantung yang digantung."

"Lah kok...? (Bingung)."

"Sama."

"Sama siapa?"

"Sama siapa saja yang mau."

"Bikin bingung lagi?"

"Nahh... Mulai bingung kan."

"Lah iya lah gak pasti gitu."

"Kan kalau pasti nanti gak ada yang bingung."

"Demen banget ya bikin orang bingung."

"Lah kan biasanya juga begitu."

"Ya sekali kali jangan yang biasa, napa?"

Gak apa-apa... justru kalau gak bingung malah aneh."

"Kok jadi aneh?"

"Lah... Memang bakalan aneh... Kalau orang gak kayak biasanya."

"Bener juga..hehehe"

"Ahh... Aku memang selalu bener."

"Hehehe..(ngalah lagi dah)"

"Harus kayak gitu. Udah ngantuk aku tidur duluan ya."

"Oke."

Dan kuingat ada satu kejadian lucu sewaktu dia salah meng-upload sebuah foto dan ku komentari.

"Kok matanya gak kelihatan?"

"Salah kirim foto itu.. Hapus, hapus, hapus."

"Hahaha."

"Mau kirim yang ini."

Kemudian dua foto terlihat di layar HP.

"Cakepan yang pertama..hahaha", jawabku sambil tertawa meledeknya.

"Itu foto lagi tidur diganggu terus jepret-jepret dah."

"Oh lagi tidur..tapi gak apa apa cakep kok..hahaha." ledekku lagi.

"Cakep apanya, itu acak-acakan."

"Itu terlihat natural..hihihi."

"Iya natural banget, orang bangun tidur... Lihat dengan teliti rambutnya itu acak-acakan."

"Benerkan natural, yang seperti itu yang aku suka. Memang kenapa kalau rambutnya acak-acakan malu ya?"

"Ya kan itu bukan buat publik, salah klik itu.. malu lah pasti."

"Kok bisa salah klik terus kalau sudah kekirim begitu kenapa gak dihapus? Berarti kalau tadi gak dikomentari gak tahu dong kalau salah kirim foto."

"Iya... Gak tahu apa yang aku klik tadi...  Kalau mas gak komentari ya aku gak tau kalau foto itu kekirim."

"Tapi tidak apa apa cakep kok dan natural."

"Ahh..cakep apanya?"

"Cakep mukanya memang apanya? Kebanyakan foto sih jadi gak tau foto mana yang mau diklik"

"Apaan itu rambut aku acak-acakan. Aku gak menyangka keluar itu foto."

"Yang aku lihat mukanya bukan rambutnya..hihihi." godaku

"Sebelum ada yang lihat dihapus aja fotonya."

"Au ah... gimana cara hapusnya, semoga yang lain gak ada yang lihat."

"Klik titik tiga yang ada di pojok nanti di situ ada pilihannya." aku menerangkan cara menghapusnya.

Tak lama kemudian foto itupun hilang.

Dua hari menjelang tahun baru kukirimkan screenshot akun WA-nya

"Ini WA siapa ya?"

"Lah kok bisa lihat?"

"Hebat kan saya..hihihi."

"Ah...gak bener nih!"

"Apanya yang gak bener?" tanyaku

"Iyalah gak bener... Mas bisa lihat akun WA-ku, aku gak bisa lihat akun WA-nya mas."

Hihihi, akupun tertawa

"Ah..gak bener... Itu karena mas punya nomer WA-ku sedangkan aku gak punya nomer WA-mas?"

"Tumben pinter.. hihihi."

"Iya dong, aku gitu."

"Coba aku chat bisa apa gak ya?"

"Tess..hihihi"

"Kok foto profil WA-nya sama aja kayak foto sampul FB, mas?"

"Memang gak hobi masang foto apalagi WA kan orangnya semuanya sudah saling kenal jadi gak usah pasang foto juga udah pada tau..hihihihi"

Akhirnya inbox pun terlupakan berganti dengan WA.

Baca juga : Dia Yang Suka Dengan Kata Hmmm

----- ***** -----

"Ya Allah, benarkan apa yang kamu katakan atau kamu hanya ingin mengetes aku lagi?"

"Aku serius, mas... Aku sudah berjanji sama mas tak mau bercanda soal beginian lagi."

Dia pun menceritakan semuanya dan meminta pendapatku dia harus bersikap bagaimana menanggapi itu semuanya.

"Seandainya aku punya hak dan bisa meminta, aku meminta untuk menolaknya tapi apakah itu mungkin?" jawabku.

"Seandainya aku menolak apa mas siap dengan semua resikonya. Dan kalau memang kita berjodoh apa mas bersedia tinggal di sini?" tanyanya lagi.

Akupun terhenyak dengan pertanyaannya dan seketika bingung untuk menjawabnya. Jarak tempat tinggalnya dengan tempatku ratusan kilometer jauhnya dan paling cepat ditempuh dalam sepuluh jam tak mungkin bolak balik setiap hari.

"Aku di sini kerja dan tidak mungkin bisa bolak balik setiap hari karena jaraknya cukup jauh. Apa aku harus berhenti bekerja?"

"Itulah... Aku juga tak bisa menjanjikan di sini bisa hidup senang. Aku bingung... Jarak membuat semua susah. Aku tak bisa pergi dari sini... Mas juga tak mungkin mau tinggal di sini."

Setelah cukup lama berdebat dengan argumen masing-masing akupun menyerahkan kalah dan berkata "Ya sudah kita ambil baiknya saja, anggap saja kita tidak berjodoh silakan kamu terima lamarannya mungkin itu memang jodoh yang Allah pilihkan buatmu."

"Mas... bisakah kita berteman untuk selamanya?"

"Bukan berarti gara-gara kamu menerima lamarannya dan menikah dengannya hubungan pertemanan kita putus, kita tetap bisa berteman cuma akan ada batasannya tidak bisa bebas seperti ini lagi."

"Aku tak mau mas menjauh.. mungkin aku egois... Tapi aku mohon jangan menjauh tetaplah jadi mas yang aku kenal.. Aku menangis tapi aku tak bisa berbuat apa-apa "

"Bukannya aku mau menjauh, aku hanya bilang pasti akan ada batasannya kalau kamu telah menikah, tak mungkin kita bisa chat sebebas seperti sekarang ini. Aku akan tetap menjadi orang yang kamu kenal. Ini juga aku sedih dan tak tahu harus berbuat apa mungkin ini sudah takdirNya"

"Aku mau bisa terus silaturahim dengan mas. Air mata ini tak bisa di tahan."

"Biarlah kita menangis hari ini untuk kebahagiaan esok hari."

"Mas punya tempat sendiri di hati aku.. Air mata ini tak mau berhenti..!!"

"Mungkin kalau tengah malam akupun sudah menumpahkan air mata sebanyak banyaknya."

"Iya.. Maaf kalau aku terbawa perasaan. Mas bener... yang penting mas jangan menjauh."

"Gak, aku gak akan menjauh."

"Berjanjilah.. jangan menjauh!! Aku ingin melihat mas tetap terus semangat dan terus tersenyum."

"Iya, aku janji gak akan menjauh dan Insya Allah aku akan kuat menerima ini semua."

"Aku pegang janji mas."

"Berjanjilah jangan menjauh agar aku tetap bisa menyaksikan bahwa kau benar dengan pilihanmu dan memastikan bahwa kau benar-benar bahagia." kataku.

Seketika hatiku terhenyak menahan rasa pilu. Aku telah mengambil keputusan yang tak mungkin lagi kuubah. Aku yakin ini yang terbaik buatku dan buatmu. Demi rasa yang pernah kita jaga, aku akan pegang janjiku.

Kamu adalah perempuan yang baik bahkan teramat baik. Perempuan yang sangat sabar dan tegar. Semoga jalan di depan tak lagi berliku tak ada lagi onak dan duri dan tak ada lagi kerikil tajam yang menghadang. Doaku untukmu perempuan yang punya tempat tersendiri di hatiku semoga apa yang menjadi pilihanmu itu adalah pilihan terbaik yang di pilihkan Allah untukmu dan semoga pernikahanmu dengannya ada di dalam rencanaNya.

Aamiin..

Baca juga : Apakah Memang Dia

Postingan populer dari blog ini

Nike Ardilla Kuterima Cintamu MP3 Dan Lirik

MP3 Iwan Fals Mata Dewa Full Album

MP3 Iwan Fals Kantata Takwa Full Album

MP3 Cokelat Rasa Baru Full Album

MP3 Iwan Fals Kantata samsara Full Album

MP3 Nafa Urbach Hatiku Bagai Terpenjara Full Album