Cerpen Adakah Pertemuan Di Cerita Kita (Masih Ada Sedikit Harapan)

ADAKAH PERTEMUAN DI CERITA KITA (Masih Ada Sedikit Harapan)
Cerpen






"Sial, gara gara macet tiket kereta api ini jadi hangus, mau balik tanggung sudah terlanjur jalan." gerutuku.

Ku keluarkan HP-ku, kubuka browser dan kuketik kata kunci jadwal keberangkatan bus dari kotaku ke kotanya. Alhamdulillah ada jadwal bus ke kotanya yang berangkat agak siang yang masih bisa dikejar. Langsung kupesan ojek online untuk mengantarkanku ke terminal bus tersebut takut terlambat lagi.

Tak lama kemudian ojek online pun datang dan langsung mengantarkan ku ke terminal bus. Sesampainya di terminal ku pesan satu tiket bus ke kota itu. Ku keluarkan 2 lembar uang kertas pecahan 100.000 dan dikembalikan 5.000.

"Aman, tiket sudah di tangan tinggal tunggu busnya, semoga perjalanan lancar dan tiba tidak terlalu malam." harapku.

Sambil menunggu kedatangan bus, ku keluarkan HP dan aku pun mulai sibuk WA dan inbox.

"Udah terlalu sering ditikung dan yang sekarang pun harapannya sudah tipis cuma sabar saja yang bisa membuat diri ini masih bertahan, kang."

"Ohh... mungkin mas Her kelamaan kali, jadi keburu diambil orang."

"Mungkin juga tapi kayaknya nggak, belum juga setahun."

"Lah emang harusnya berapa tahun?"

"Gak tau... harus berapa tahun..hihihi."

"Emang nunggu apaan kok nggak tau? Eh, saya dulu dari mulai kenal sampai nikah nungguin 2 tahun. Soalnya nyari modal dulu."

"Dulu juga aku pernah berhubungan hampir setahun dan sudah sepakat untuk menikah sehabis lebaran tapi takdir berkata lain."

"Ohh...takdir?? Meninggal??"

"Iya, dia meninggal beberapa hari menjelang puasa terkena serangan kanker otak, kang"

"Innalillhahi wa inna ilaihi roji'un."

Baca juga : Apakah Memang Dia?

++++++++++++

"Hari ini sepertinya aku lagi apes, tiket kereta api hangus ganti bus kena tipu bilangnya ke kota ini kok jadinya ke kota itu. Sial benar." umpatku setelah diberitahu bus yang ke kota itu tidak datang dan disuruh ganti bus tapi ke kota yang yang berbeda.

Ingin marah-marah tapi tak berani, tahu sendiri kan bagaimana kerasnya kehidupan di terminal dan akhirnya hanya bisa ngedumel dalam hati dan pasrah dengan keinginan PO bus daripada tidak sampai ke kota tujuan. Memang dasar lagi apes dapat tempat duduk bangku plastik yang biasa dipakai di warung-warung tenda dan dekat pintu pula, "hadeh bakalan tak bisa tidur nih." umpatku.

Sudah hampir satu jam bus belum juga berangkat bikin perut jadi lapar, aku pun turun dari bus dan melangkahkan kaki ke pedagang yang menjual makanan dan minuman, tiga buah roti serta sebotol air mineral jadi pelampiasan untuk mengisi perut yang sedang lapar. Setelah merasa kenyang dan membayar semua yang ku makan aku langsung naik kembali ke bus. Dan tak lama kemudian bus pun berangkat juga.

Dalam perjalanan hanya HP yang menjadi teman tapi harus hemat baterainya hanya membuka HP ketika ada notif saja karena terburu buru power bank tak terbawa.

Terdengar suara notif inbox yang masuk.

"Gak penting banget, biar yang sempat aja yang balas.. hihihihi." ucapku sambil tertawa dalam hati.

Sekitar 15 menit kemudian terdengar lagi satu notif, langsung ku balas isi pesannya,

"Kayak statusku aja masih ada sedikit harapan."

"Hehehe."

"Kok tertawa, kang?"

"Ketawa aja, lah pas banget sama statusnya mas Her. Waah berarti emang benar masih ada harapan. Udah mas Her langsung aja...!!"

"Langsung apanya, kang?"

"Yaa langsung PDKT."

"Mau PDKT bingung, nggak begitu bisa ngobrol sama perempuan yang belum begitu ku kenal, kang."

"Lahhh...bukannya udah lama kenal sama dia??"

"Cuma kenal di komentar aja."

"Apa bedanya, kan PDKT awalnya juga pasti lewat komentar atau chat."

"Lahhh kalau di komentar bisa langsung dibalas kalau di chat belum tentu, kang."

"Nggak juga. Paling yang langsung membalas komentar malah mas Agus. Apalagi sekarang dia jarang FB-an, larinya paling ke WA."

"Nah itu dia, emang mas Agus yang paling suka balas komentar orang. Ada sih yang ngasih nomor WA-nya tapi belum berani WA dia."

"Owh gitu.. Coba WA-nya sambil merem, biar berani. Coba aja dulu kirim emot, titik, dll."

"Paling-paling nggak dibalas. Inbox saja yang dari bulan April sampai sekarang belum dibalas."

"Lah inbok isinya gituan ya gak dibalas, bingung mau balas apaan. Biar di balas ya chat kalimat tanya."

Aku tersenyum, tersenyum karena bus memasuki halaman sebuah rumah makan. Sedari tadi penghuni perut sudah main orkestra.

Ku turun dari bus langsung menuju toilet, keberuntungan pertama toilet gratis semoga ada keberuntungan selanjutnya. Keberuntungan kedua dapat makan gratis dan tak begitu antri. Keberuntungan ketiga sambil makan bisa cas HP.

"Alhamdulillah dapat tiga keberuntungan sekaligus untuk menutup apes sebelum." kataku dalam hati.

Kurang lebih sejam kemudian bus kembali berangkat, walau belum malam tapi mata sudah mengantuk mungkin ini kebiasaan atau kena penyakit orok, perut kenyang mata jadi ngantuk tapi tak bisa untuk tidur hanya merem-merem saja.

Kira kira pukul setengah empat setelah azan ashar suara notif yang ditunggu-tunggu terdengar juga. "Sepertinya dia baru bangun." ucapku sambil mengusap layar HP membuka pesan chat yang baru ku terima.

"Baru bangun ini."

Ternyata benar dugaanku ternyata dia memang baru bangun. Lantas ku jawab pesan chat-nya. "Seneng banget jam segini baru bangun."

"Iya dong jarang-jarang sih."

"Justru yang jarang-jarang itu yang nikmat..hihihi. Sekarang lagi apa nih?"

"Iya bener. Ini lagi rebahan."

"Lagi rebahan, nggak keluar rumah, katanya hari ini kan ada hiburan?"

"Nggak lah... males... nggak tau nanti kalau ada yang ngajak?"

Tiba-tiba tepat di depan ku ada yang mabuk dan muntah hingga membuat perut ini mual dan hampir saja ikutan muntah. Untung masih ada permen kopi jadi tak ikutan muntah.

"Hadeeeh, udah nggak bisa tidur pakai acara ada yang muntah lagi. Mimpi apa aku semalam. Ini lagi sinyal HP ikut-ikutan bikin kesal pakai acara ketinggalan jadi nggak bisa chat lagi, lengkap sudah." makiku panjang pendek.

Bus terus melaju kencang sinyal HP masih belum nongol juga mungkin ia masih berusaha mengejar laju bus dan semoga saja di depan ada tikungan tajam biar dia bisa mengejarnya.

Sambil menunggu kembalinya sinyal HP yang ketinggalan oleh laju bus kucoba memejamkan mata dalam posisi duduk agak menyender ke pintu bus mencoba untuk tidur. Karena mata memang sudah lelah dan butuh istirahat akupun tertidur cukup lama dan terbangun dan kulihat suasana di luar bus sudah gelap lampu bus pun sudah dinyalakan. Kulihat layar HP hampir jam setengah delapan malam sudah lewat azan isya tapi masih belum juga sampai di kota itu padahal dari kota itu ke kotanya masih lumayan jauh.

Tiba-tiba suara notif terdengar saling berebutan dan aku pun tersenyum. "Akhirnya nongol juga tuh sinyal dan pantas saja belum sampai, bus ini jalannya lambat sama sinyal yang tak punya roda saja bisa terkejar." kataku dalam hati.

Satu persatu kulongok notif yang masuk dan hanya beberapa saja yang kubalas.

Kembali suara notif terdengar.

"Lah itukan besok malam."

"Oh... Besok malam ya..kirain malam ini... Ya udah tidur aja."

"Iya ini juga."

"Ini juga apa?"

"Lagi usaha merem."

"Cakep, tidur sore sore biar besok bangun badan terasa lebih segar."

"Okee... Sehat sehat ya... Jangan sampai sakit menyerang." jawabnya dan chatpun berhenti.

Hampir jam 21.00 bus baru tiba di terminal. Keputuskan untuk menginap di kota ini dan besok pagi baru berangkat ke kotanya.

Ku turun dari bus dan kulangkahkan kakiku menuju ke sebuah warung yang tak jauh dari mulut terminal.

"Bang, Aqua tanggungnya satu."

"Ini, mas." si abang pemilik warung menberikanku sebotol air mineral.

Kuambil dan kubuka lalu.
Gluk..gluk..gluk..gluk... Nyaris sebotol air dalam kemasan itu berpindah tempat ke dalam perut.

"Maaf bang mau tanya apa di sini ada penginapan yang cuma buat semalam?" tanyaku pada si abang pemilik warung.

Si abang pemilik warung menatap ku sesaat dan bertanya "Mas memangnya dari mana?"

"Jakarta, bang."

Si abang pemilik warung seperti tak percaya, matanya menatap tajam ke arah ku. Mungkin karena aku tak membawa apa-apa cuma memegang sebuah hp saja jadi tak terlihat seperti orang yang datang dari jauh pikirnya.

"Ada apa nggak, bang?" tanyaku lagi untuk memastikan.

"Ohh... Ada, itu tidak jauh dari sini lewati jembatan itu." jawabannya sambil menunjuk ke arah sebuah jembatan.

"Terima kasih, bang." kusodorkan uang 10.000 untuk membayar Aqua yang ku minum.

"Ini kembaliannya, mas."

Kuambil uang kembaliannya dan segera berjalan ke arah yang dikatakannya. Baru beberapa langkah aku mendengar ada yang memanggilku dari arah belakang.

"Mas... Mas, tunggu sebentar."

Kuhentikan langkah kakiku seraya menengok ke belakang.

Tampak seorang lelaki berusia 30 tahunan berjalan menghampiriku.

"Mas mencari penginapan?" Tanyanya.

"Iya, cuma buat semalam, abang tau tempatnya?"

"Tau, mari saya antar."

"Jauh tidak, bang?"

"Nggak, itu di seberang kali kecil itu." sambil menunjuk kali kecil yang memang tak jauh jaraknya.

Tak lama kemudian sampailah aku di sebuah penginapan, tidak begitu bagus tapi lumayanlah buat istirahat semalaman.

"Semalam berapa, bang?"

"Semalam Rp 80.000, Mas."

Kukeluarkan selembar uang 100.000. "Ini bang hanya buat semalam sisanya ambil buat abang."

"Terima kasih, mas. Selamat beristirahat."

Sebelum tidur ku cas HP yang sedari tadi sudah rewel. Semoga bisa bangun pagi-pagi agar tak terlalu siang sampai di kota itu. Kurebahkan tubuhku di atas pembaringan dan aku pun terlelap.

Baca juga : Misteri Di Balik Kata Hmmm

------------------------

Jam 05:30 aku terbangun. Setelah mandi dan kembali berpakaian aku bergegas meninggalkan penginapan menuju terminal untuk berangkat ke kota itu. Sebelum pergi aku pamit dulu ke penjaga penginapan.

"Selamat pagi, bang. Ini kunci kamarnya." sapaku kepada penjaga penginapan sambil menyerahkan kunci kamar.

"Terima kasih, mas. Hari masih pagi sudah mau pergi memangnya mau ke mana, mas?" tanya penjaga penginapan.

Aku pun menyebutkan nama satu kota dan langsung pamit takut ketinggalan bus yang menuju ke kota itu. Sesampainya di terminal sebelum masuk ke dalam terminal kumampir ke warung yang semalam untuk mengisi perut.

"Indomie rebusnya satu sama teh manisnya satu, bang." ucapku ke pemilik warung.

Sambil menunggu pesanan kududuk di bangku dan mengeluarkan HP mengirim sebuah pesan chat kepadanya.

"Selamat pagi. Pagi yang cerah walau sedikit dingin. Dan selamat beraktivitas."

Tak lama terdengar notif dari HP yang masih kupegang.

"Pagii... Pagi yang cerah bangettt. Iya... Lagi nyuci ini."

"Hebat nyuci sambil mainan HP!"

"Belum..baru mau ini...hehehe"

"Baru mau nyuci.. nyuci dulu dah ntar baru online lagi kasihan tuh cucian udah kedinginan.. hihihi."

"Iya..hehehe "

Kuakhir chat dengannya dan berganti membalas inbox seorang teman

"Itu udah lama, kang"

"Oh, jadi semenjak itu jomblo?"

"Ya sempat oleng sebentar dan mencoba mencari lagi tapi apes dapat baru beberapa bulan ketauan main belakang."

"Mas Her yang main belakang?*

"Dia yang main belakang, diberi kesempatan sampai tiga kali tapi dasarnya memang dia suka main belakang ya terpaksa bubar."

"Busyet!!! Udah dapet piring tuh."

"Dapat piring sama ember..hihihi."

"Hehehe..." 0h iya, udah di-inbox apa belum?"

"Silakan, Mas" Indomie dan teh manis pesananku sudah jadi dan aku pun makan sambil inbox-an.

"Belum."

"Hemmm... Apa saya aja yang inbox-in?"

"Jangan, ntar dia marah lagi."

"Kenapa marah?"

"Kali aja."

"Jadi gimana?"

"Terserah dah kalau mau inbox-in juga gak apa apa."

""Asiik... Oh iya, kalimatnya kayak gmana nih?"

"Atur aja gimana baiknya, kang."

"Ciee..."

"Hihihi."

Satu screenshot dikirimnya

"Orang aktif tujuh jam yang lalu tuh."

"Iya, berati memang dia sudah jarang FB-an... Jadi deg-degan aja nih." "Apa dia sudah ada yang larang?"

"Nah itu... Aduhh..."

"Mendingan jangan dah kang takut nggak enak kalau dia udah ada calonnya."

"Makanya ini mau nanya dulu buat mastiin."

"Ahh..bikin deg degan aja nih."

"Tapi kan seru... Eh, tapi ini serius ya, bukan buat main-main...ntar kualat.. Hehe."

"Lah iya serius kalau masalah seperti ini aku nggak mau main main, kang."

"Widihh!! Mantap...! Jadi semangat lagi nih."

"Terus semangat kang kali aja memang masih ada sedikit harapan."

"Aamiin... Btw, kok jadi saya yang disemangati, hahaha"

"Hahaha..."

"Semuanya jadi berapa, bang. Indomie, teh manis sama krupuk satu?" tanyaku sambil menyodorkan uang pecahan Rp 50.000.

"12ribu, mas."

"Ini kembaliannya."

Kuambil kembaliannya dan iseng-iseng ku bertanya, "Kalau mau ke kota ini naik busnya dari mana, bang?"

"Tunggu di sini saja nanti juga ada bus yang lewat yang menuju ke sana. Mas ini yang dari Jakarta yang semalam mencari penginapan kan?" tanyanya.

"Iya, terima kasih sudah diberi tau tempat menginap, bang"

"Dari Jakarta bukannya ada bus yang langsung ke kota itu kok mas ke kota ini?" tanyanya lagi.

"Kena tipu PO bus, katanya ke kota itu tapi jadinya ke kota ini, bang" Jawabku.

"Nah itu datang bus yang ke kota itu, langsung aja naik." Katanya sambil menunjuk sebuah bus yang datang.

Bus itu berhenti tak jauh dari ku. Kernet bus meneriakkan kota yang kutuju. Aku pun bergegas naik ke atas bus dan duduk di pojok belakang. Setelah menaikkan beberapa orang penumpang bus pun berangkat.

Tak lama kemudian kernet bus meminta ongkos. Kutarik selembar uang kertas pecahan 100.000 dan kuberikan kepadanya.

"Nggak ada uang pas, mas? tanyanya.

"Berapa?" aku balik bertanya.

"55.000." Jawabnya

Gak ada, ini ada 5.000 kembalikan 50.000 ada kan?"

"Belum ada mas tunggu ya"

Aku hanya mengangguk dan duduk tenang di pojok belakang bus sambil melihat keluar melalui jendela yang terbuka.

Entah sudah berapa jam perjalanan akhirnya terdengar suara notif khusus chat WA dari HP-ku.

"Lagi apa mas?"

"Lagi duduk sambil lihati layar HP."

"Nggak ada jawaban yang lain apa?"

"Nggak ada, ingatnya cuma itu aja."

"Bagus banget ingatannya."

"Itu juga kadang-kadang mungkin kalau lagi benar saja..hihihi."

"Harus di biasain tuh biar bisa berlanjut ingatannya."

"Maunya begitu tapi apalah daya belum makan."

"Belum makan ya? Ya makan ihhhh..."

"Lagi di perjalanan belum bisa makan...hiks."

"Emang mas mau kemana?"

"Entahlah ini mau ke mana, jalan-jalan aja daripada hanya bengong di rumah."

"Lahhh... Gimana sih! Mas sendirian apa bareng temen?"

"Sendirian... Lagi mengikuti kata hati."

"Lahhh... Ke mana?"

"Entahlah mau kemana itu yang bingung. Ini sudah hampir dua jam terjebak macet."

"Lah... Ke mana sih.. masih daerah Jakarta kan?"

"Sudah di luar Jakarta."

"Ke Bogor ya?"

"Bukan, jauh dari Bogor."

"Kemana? Nyasar ntar loh!"

"Kalau nyasar tinggal balik lagi."

"Ihhh... Kepo nih, kemana sih? Naik motor keluar Jakarta... Hebat."

"Naik bus bukan motor.."

"Ke mana ihh?"

"Aku juga bingung mau ke mana kalau tujuan busnya ke Pemalang."

"Sekarang sampai mana?"

"Masih kena macet di Tegal atau Brebes kurang tau juga ini."

"Emang ke tempat siapa di Pemalangnya?"

"Belum tentu mau ke Pemalang sih."

"Iiiihhhh...gimana sih. Ke tempat aku aja."

"Kejebak macet busnya, kalau mau ganti bus gantinya di mana?"

"Ya di terminal pindah jurusan sini."

"Lah ini kejebak macet gak bisa ke mana mana. Macet ada karnaval katanya."

"Bisa lama tuh."

"Ini udah hampir dua jam."

"Hmmm... Ditunggu aja."

"Iya ditunggu tapi lapar ini, malah gak ada tukang jajanan"

"Lahh... Kalau masih lama, di situ dekat warung mas ijin aja keluar sebentar beli makanan."

"Lah gimana dekat warung ini adanya di tengah-tengah fly over."

"Hahahaha."

"Ihh... Malah ketawa."

"Hihihi... Ya mau gimana lagi coba."

"Berdo'a dong biar cepat jalan."

"Berdo'a mulai!"

"Berdo'a selesai."

Keasikan chat tak terasa hari sudah lewat tengah hari tapi bus masih belum bergerak juga perut yang sudah lapar semakin terasa lapar.

"Perut lapar, terjebak macet di tengah-tengah fly over, baterai HP sekarat, tinggal tunggu sinyalnya saja kalau sinyalnya sampai hilang lengkap sudah penderita ini." rutukku dalam hati.

Akhirnya dengan berat hati HP pun kumatikan sebab baterainya sudah benar benar kritis. Ku mencoba untuk memejamkan mata syukur syukur bisa tertidur pulas dan terbangun setelah sampai di tempat tujuan.

Baca juga : Dia Yang Suka Dengan Kata Hmmm

*****____*****

16:25 bus baru sampai di terminal. Perjalanan yang biasanya ditempuh 3 sampai 4 jam harus ditempuh hampir 10 jam. Setelah turun dari bus ku langsung mencari tempat untuk makan karena perut memang sudah sangat lapar.

"Soto ayamnya satu sama es teh manisnya satu, bu." langsung kupesan makanan sesampainya aku di sebuah warung makan.

Ku tarik sebuah bangku dan aku pun duduk. Ada sebaris tulisan yang ditempelkan di dekat sebuah stopkontak yang menarik perhatianku. Sebaris tulisan itu berbunyi "Cas HP Rp 2.000."  "Baru kali ini aku melihat tulisan seperti itu, ternyata cas HP ada tarifnya." kataku sambil tertawa dalam hati.

Ku keluarkan HP dan charger-nya, 2.000 entah itu tarif pengecasan untuk berapa lama. "Masa bodo yang penting HP dan orangnya sama sama makan." kembali ku berkata dalam hati.

Sekitar sepuluh menit kemudian HP ku hidupkan. Terdengar suara notif yang saling berebutan tapi semuanya ku abaikan.

"Ini baru sampai terminal dan sekarang lagi makan..laper banget sih" ku kirim pesan WA kepadanya.

"Seriussss??? Aku pengen ketemu." balasan darinya

"Kita ketemuan di....." belum selesai kumengetik, dia sudah menelponku. Langsung kuangkat telponnya dan terdengar suaranya dan kujawab, "Oke habis Maghrib di tempat itu." "Tunggu aku di situ dan maaf mas aku nggak bisa ajak mas ke rumah." "Nggak apa apa aku mengerti kok." Telpon pun berakhir.

Kulanjutan makan yang sempat tertunda. Selesai makan aku langsung membayarnya dan bertanya ke ibu pemilik warung. "Kalau mau pergi ke tempat ini naik mobil apa, bu?"

Si ibu pemilik warung menjawab "Naik ojek aja gak jauh kok jarak dari sini hanya beberapa menit saja." Ku turuti perkataan si ibu pemilik warung aku pun pergi ke tempat itu dengan naik ojek.

Sebelum azan Maghrib sampailah aku di tempat itu. Sambil menunggu kedatangannya aku berkeliling mencari tempat yang menjual power bank sebab baterai HP baru terisi sedikit takut HP mati yang bisa berbuntut gagal bertemu dengannya karena kehilangan kontak.

Sebuah power bank akhirnya kudapatkan walau cuma berisi setengahnya namun lumayan bisa untuk mengisi baterai HP ini hingga penuh. Setelah mendapat power bank aku bergegas menuju masjid yang tak jauh dari tempat ku mendapatkan power bank untuk sholat Maghrib karena azan Maghrib sudah terdengar. Tak lama setelah selesai sholat Maghrib terdengar suara notif WA.

"Oke, aku keluar rumah ini."

"Iya, hati hati jalannya."

Kurang lebih setengah jam kemudian terdengar lagi suara notif WA.

"Aku dah sampai... Mas dimana?"

"Depan Alfa mart." jawabku

"Oke aku ke situ."

Tak lama kemudian

"Ningsih..."

"Mas Her..."

Masih ada sedikit harapan dan itu menjadi nyata, ada pertemuan di cerita kita.



Tamat

Postingan populer dari blog ini

Cerita Bersambung - Apakah Memang Dia?

Cerpen Dia Yang Suka Dengan Kata Hmmm (Kenapa Mesti Hmmm)

Cerpen Misteri Di Balik kata Hmmm